Budidaya Ulat Sutera...
Ini Ceritanya...Ayo kita simak bersama..!!!
Indonesia masih banyak mengimpor benang sutera
karena kekurangan bahan baku kerajinan kain. Ini kisah salah satu upaya
bertahan unit kecil rantai keajaiban ulat sutra (Bombyx mori) dari telur sampai jadi kain di Kabupaten Badung, Bali.
Menarik melihat budidaya ulat sutera. Tak hanya keajaibannya
menghasilkan serat benang sutra yang indah dan kuat, ulat ini
mengajarkan soal kemampuan adaptasi dan keseimbangan kehidupan.
Kehidupan baru setelah kematian.
Seperti terjadi di Agrowisata Sutera Sari Segara yang berlokasi di
Banjar Lateng, Sibang Kaja, Abiansemal. Di tengah pemukiman penduduk,
area sekitar 40 are kebun daun murbei ini dari depan tidak nampak hijau.
Gerbang rumah besi dengan balebengong di pojoknya dan pintu tertutup
rapat.
“Takutnya anjing masuk,” Tri Edy Mursabda, seorang pria tengah baya
manajer operasionalnya menyambut. Suasana sepi, sampai terlihat beberapa
blok kandang binatang seperti Rusa Timor, kalkun, dan Jalak Bali.
Sebuah ruangan audio visual berada paling depan, untuk menyambut
rombongan pelajar atau turis yang ingin memulai tur melihat keajaiban
ulat pemintal benang sutra ini. Mereka akan disuguhkan dengan video
perkenalan dan pengetahuan.

Terdapat ruangan paling besar dengan enam alat tenun bukan mesin,
meja dan kursi seperti kantin, dan gantungan kain-kain warna warni
beraneka corak. Dalam lemari-lemari kaca juga ada aksesoris jepit
rambut, bros, bando, dan lainnya.
Tri mengambil sebuah buku album berisi foto-foto yang mulai buram.
Kisah si ulat-ulat sutra ini terekam di sini. “Kami kekurangan bahan
baku untuk tenun,” ia membuka optimismenya dalam rantai budidaya ulat
sutra ini. Ini menjelaskan kenapa pada saat itu, akhir April lalu hanya
ada satu penenun yang bekerja melanjutkan menenun tiap helai benang
sutra menjadi kain corak merah kebiruan. Alat tenun lain masih tertempel
kain-kain setengah jadi berwarna merah, hijau, aneka corak. Menunggu
benang tambahan.
Agar para penenun dan pekerja lainnya tetap bisa beraktivitas, Tri
fokus mengembangkan wisata agro sejak 2008. Ia memulai dengan menyiapkan
lahan kebun murbei sekitar 40 are dan 10 are untuk bangunan. Tri
menyebut membibitkan ulat sutera tak sulit, cukup menyemai potongan
tangkai dahan sebelum ditanam di lahan. Untuk perawatan, pohon murbei
tua rutin dipangkas tiap 3 bulan agar dahannya tak terlalu tinggi
sehingga daunnya lebih lebat.
Suhu di lokasi ini relatif panas dibanding rekomendasi lokasi budi
daya ulat sutra antara ketinggian 400-800 meter di atas permukaan laut.
Namun Tri optimis dan menyiasatinya dengan mengurangi panas ruangan
makan si ulat dengan memasang blower.

Bibit berupa telur didatangkan dari Sopeng, karena tak setiap
pembudidaya bisa membibit sendiri dengan alasan menjaga kualitas dan
mencegah penyakit. “Kami bisa produksi telur tapi perlu alat dan ahli
yang periksa lab, dan lainnya,” urainya. Dalam 10 hari telur-telur akan
menetas. Tri memesan sekitar 100 ribu bibit telur tiap 3 bulan.
Pertumbuhannya dari ulat kecil, menjadi instar ulat makin besar dan
berganti kulit. Mereka terus makan dedaunan murbei dengan lahap sampai
22-25 hari. Setelah itu inilah tahapan yang paling dinanti, metamorfosis
jadi kepompong. Dalam tahap ini ulat tak makan daun lagi.
Ulat-ulat dipindahkan ke kotak-kotak kuning. Pada hari ke-3,
bulatan-bulatan kokon (cocon) atau kepompong sudah terlihat. Ulat
terlihat berada dalam kepompong memintal air liurnya jadi helai-helai
tipis putih seperti kapas. Dengan tekun gulungan ini makin rapat dan
tebal sampai ulat tak lagi terlihat.
Beberapa ulat terlihat tak mampu membuat kepompong dan mati. Melihat
proses ini terlihat mengesankan. Serdadu pekerja ini tekun memintal
dalam sunyi. Hari ke-4 bulatan kokon sudah penuh dan siap dipanen.

Sejumlah kokon yang disiapkan jadi indukan akan melakukan hal
menakjubkan untuk jadi larva dan bertelur. Ulat melubangi kokon persis
di titik dimulainya serat pertama diproduksi. Beda dengan ulat yang
bermetamorfosis jadi kupu-kupu, ulat sutra tidak jadi kupu-kupu.
Tri menyebut dari 10 kg kokon/kepompong saat dipintal menjadi 1 kg
benang. Bisa jadi kain dengan panjang 8 meter dan lebar 110 cm lebar.
Jika beroperasi penuh per hari kelompok budi daya ini menghasilkan
sekitar 30 kg benang. Harga beli cocon dari pembudidaya saat ini sekitar
Rp50 ribu/kg. Jadi masuk akal harga kain sutra lebih mahal.
Beralih ke lokasi pemintalan benang. Kepompong direbus beberapa saat
agar lebih lunak, baru dipintal. Selanjutnya diwarnai. Tri memberi tips
cara membandingkan benang sintetis dan sutra alami. Saat benang sutra
dibakar muncul bau rambut hangus dengan abu tipis yang mudah hilang.
Sementara benang sintetis jika dibakar seperti plastik dengan api merah.
Sifat kain sutra memang istimewa, saat cuaca dingin kita merasa hangat,
dan sebaliknya. Kain halus dan berkilau kena matahari tapi tak licin.
Seorang pekerja, Made Sari, menenun di agrowisata ini sejak 2010. Ia
menyelesaikan 2 meter kain/minggu. “Harus sabar tidak bisa sambil nonton
tv nanti rusak,” ia tersenyum.

Tri melihat potensi budidaya sangat menjanjikan karena pengerajin
kain masih kekurangan bahan baku sampai impor benang sutra. Karena itu
ia sendiri kerap kekurangan bahan baku sehingga produksi tenun terhenti.
Pihaknya sedang berupaya perbanyak kelompok tani ulat sutra. “Kita
sedang sosialisasi, hasil kepompong pasti kita beli,” ujarnya.
Selain menjual dalam bentuk kain, bagian lain dari budidaya juga kini
sudah diaplikasikan menjadi kerajinan. Misalnya kokon terlihat berubah
menjadi souvenir, dipotong berbagai bentuk dan diwarnai kemudian
dirangkai jadi hiasan rambut dan lainnya. Benang sutra juga diminati
seniman untuk rambut barong, alasannya benang ini terlihat lebih indah
dan hidup.
Dari laman Agro Indonesia,
disebutkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
mempermudah proses pengadaan telur ulat sutra dari luar negeri dengan
menerbitkan Peraturan Menteri LHK No.37/2017 tertanggal 7 Juni 2017.
Lewat kebijakan ini, usaha budidaya ulat sutra yang banyak dilakukan
masyarakat di sekitar hutan diharapkan bisa kembali bergairah. Produksi
kokon lokal pun diharapkan meningkat sehingga menekan impor benang sutra
yang lebih menguras devisa.
Mengutip artikel itu, Direktur Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan
Adat KLHK Hargyono menyebut produksi kokon di tanah air memang masih
minim. Setahun, hanya bisa menghasilkan sekitar 80 ton benang sutra
saja. Padahal, kebutuhan benang sutra nasional tiap tahunnya mencapai
800 ton. Untuk memenuhi kebutuhan itu, impor benang sutra, utamanya dari
Tiongkok pun harus dilakukan.
Demikian Paparan singkat tentang proses Budi Daya Ulat Sutra..Semoga bermanfaat bagi kita semua Aamiin..
ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
BalasHapushanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
terimakasih ya waktunya ^.^