Kamis, 14 Februari 2019
UJIAN-4
- Apa motivasi Anda kursus di Widya informatika?
- Pesan dan kesan selama Anda belajar di Widya informatika
- Berapa persen ilmu yang anda serap selama proses belajar Internet?
1 .Motivasi saya ikut kursus di Widya informatika yaitu karena saya ingin menambah Ilmu dan wawasan saya terutama di bidang komputer, karena saya tahu bahwa ilmu yang saya miliki sangat minim dan juga sangat terbatas.
2. Pesan Dan Kesan selama belajar di Widya Informatika
-Selama saya menimba ilmu dari pertama kali masuk hingga saat ini saya merasa ada perubahan pada diri saya pribadi mulai dari bertambahnya ilmu, wawasan bertambah juga teman-teman yang sangat seru, instruktur yang ahli dibidangnya dan kakak-kakak CS yang ramah dan juga cantik, sehingga tidak ada kata bosan saat menghadiri proses belajar di Widya Informatika.
3. Saya rasa ilmu yang di dapat dari Materi internet yang di ajarkan oleh ibuk wati sangat banyak dan yang saya peroleh dari segi pemahaman jika di persenkan saya memeiliki penilaian terhadap diri saya sendiri yaitu 90%. semoga bisa meninggat lagi..Aamiin.
-
Kamis, 07 Februari 2019
Kamis, 17 Januari 2019
Sejarah Pulau Penyengat
Sejarah Pulau Penyengat
Berikut adalah sejarah singkat Pulau Penyengat....Selamat menyimak....!!!
Alkisah, nama pulau Penyengat muncul dalam sejarah Melayu pada awal
abad ke-18 ketika meletusnya perang saudara di Kerajaan Johor-Riau yang
kemudian melahirkan Kerajaan Siak di daratan Sumatera (masih di Riau).
Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya perang Riau (akhir
abad ke-18) pimpinan Raja Haji Fisabilillah yang pada tahun 1997
diangkat sebagai pahlawan nasional. Raja Haji menjadikan pulau ini
sebagai kubu penting yang dijaga oleh orang-orang asal Siantan, dari
kawasan Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan.
Cerita rakyat menyebutkan, nama pulau tersebut diambil dari nama binatang yakni penyengat (sebangsa lebah), semula dikenal sebagai tempat orang mengambil air dalam pelayaran di kawasan ini. Konon, suatu kali para saudagar yang mengambil air di situ diserang binatang tersebut. Pihak Belanda sendiri menjuluki pulau itu dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau itu lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.
Pada tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, Yang Dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga.
Dengan pengalamannya sebagai pengusaha timah di Semenanjung Malaya dan selalu berpergian ke berbagai tempat sebelum diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda, Raja Jaafar membangun Penyengat dengan cita-rasa pemukiman yang molek. Sejumlah pengamat asing menyebutkan, Penyengat ditata sebaik-baiknya tempat yang terlihat dari penyusunan pemukiman, keberadaan tembok-tembok, saluran air, dan jalan-jalan. Pada gilirannya, Sultan Abdurrahman Muazamsyah, tahun 1900 memindahkan tempat kedudukannya dari Daik ke Penyengat.
Setelah menolak menandatangani politik kontrak dengan Belanda dan melakukan berbagai macam bentuk perlawanan, Sultan Abdurrahman Muazamsyah diturunkan dari tahta oleh penjajah. Tak seorang pun orang Melayu yang bersedia menjadi Sultan setelah itu, Abdurrahman Muazamsyah bahkan mengilhami orang-orang Riau meninggalkan Penyengat menuju Singapura dan Johor tahun 1911. Hanya beberapa ratus orang penduduk dari 6.000 orang penduduk waktu itu yang tinggal di Penyengat setelah peristiwa tersebut.
Dengan demikian, bangunan-bangunan kerajaan terbiarkan, bahkan dijarah. Selentingan dari penduduk terdengar cerita tentang bagaimana di antara para bangsawan mengharapkan agar bangunan-bangunan yang ada hendaklah dirubuhkan daripada diambil oleh Belanda. Tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan terhadap Mesjid Sultan, malahan rumah ibadah ini dipelihara baik sebagaimana mestinya sebuah rumah ibadah.
Sebenarnya, Mesjid Sultan di Pulau Penyengat sebagaimana disebutkan dalam Tuhfat al-Nafis (buku sejarah Melayu) karya Raja Ali Haji, dibangun seiringan dengan dihadiahkannya pulau tersebut kepada Engku Putri Raja Hamidah oleh Sultan Mahmud. Cuma saja, waktu itu, mesjid tersebut terbuat dari kayu. Raja Jaafar yang membangun Penyengat sebagai bandar modern hanya pernah memperlebar mesjid itu karena penduduk Pulau Penyengat semakin banyak.
Dalam buku Mesjid Pulau Penyengat yang disusun Hasan Junus disebutkan, pembangunan mesjid itu secara besar-besaran dilakukan ketika Raja Abdul Rahman memegang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844), menggantikan Raja Jaafar. Tak lama setelah memegang jabatan itu yaitu pada tanggal 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu, setelah usai shalat Ied, ia menyeru masyarakat untuk ber-fisabilillah atau beramal di jalan Allah.
Caranya adalah dengan membangun mesjid di atas tapak mesjid yang lama. Suatu mesjid yang dapat meninggalkan zaman yaitu dapat digunakan mulai saat dibina sampai kepada anak cucu mendatang. Seruan ber-fisabilillah itu sangat kuat bergaung, setelah seruan serupa dikumandangkan dalam perang Riau, sehingga berduyun-duyunlah masyarakat datang dari berbagai tempat untuk bergotong-royong. Khusus pada sepekan pertama, para lelaki selain penjaga malam, dilarang keluar rumah agar siangnya dapat menyumbangkan tenaganya untuk mesjid. Akhirnya, pembuatan fondasi mesjid selesai dikerjakan selama tiga pekan.
Tidak saja tenaga, mereka juga menyumbangkan makanan seperti beras, sagu, dan lauk-pauk termasuk telur ayam. Makanan itu berlimpah-ruah, bahkan konon putih telur sampai tidak habis dimakan. Atas saran tukang pada bangunan induk mesjid, putih telur itu akhirnya dicampur dengan semen untuk perekat batu. Itulah sebabnya mengapa banyak masyarakat menyebutkan bahwa mesjid tersebut dibuat dari telur.
Kini kawasan mesjid itu berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya adalah 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat tiang. Lantai bangunannya dibuat dari batu bata tanah liat. Di halaman mesjid, terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat musyawarah. Selain itu terdapat juga dua balai, tempat orang biasanya menghidangkan makanan ketika kenduri dan untuk berbuka puasa yang disediakan pengurus mesjid setiap hari seperti juga tahun ini. Khusus bangunan induk, Raja Hamzah Yunus mengatakan, “Tidak ada perubahan semenjak pertama dibangun oleh Raja Abdul Rahman.”
Tak pelak lagi, keberadaannya memang amat lain dibandingkan mesjid semula yang terbuat dari kayu. Seperti dikisahkan dalam Mesjid Pulau Penyengat, semula mesjid itu berlantai batu merah empat persegi, sedangkan dindingnya terbuat dari kayu cengal (Balanocarpus heimii) yang didatangkan dari Selangor (kini masuk Malaysia). Atapnya terbuat dari kayu bekian. Hanya terdapat sebuah menara setinggi 12 hasta, ditambah sebuah kubah berukuran 17 hasta. Mesjid ini diberi pagar hidup dengan pohon-pohonan yang tumbuh merimbun.
Patutlah diakui bahwa bentuk Mesjid Sultan di Penyengat kini sangat unik. Sulit bagi orang untuk menentukan asal arsitekturnya. Ada yang mengatakan, mesjid ini bergaya India berkaitan dengan tukang-tukang dalam membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Singapura. Tetapi yang jelas, arsitektur mesjid merupakan gaya campuran dari berbagai wilayah budaya seperti Arab, India, dan Nusantara. Dalam dua kali pameran mesjid pada Festival Istiqlal di Jakarta (1991-1995) disebutkan bahwa Mesjid Sultan ini merupakan mesjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.
Terdapat 13 kubah di mesjid itu yang susunannya bervariasi seperti ada “kelompok” kubah dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ditambah dengan empat menara yang masing-masing memiliki ketinggian 18,9 meter, maka dapatlah dijumlahkan bahwa bubung yang dimiliki mesjid tersebut sebanyak 17 buah. Ini diartikan sebagai jumlah rakaat dalam shalat yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam dalam sehari semalam yakni subuh (dua rakat), zuhur (empat rakaat), asyar (empat rakat), maghrib (tiga rakaat), dan isya (empat rakaat).
Keunikan di dalam mesjid masih banyak. Paling menarik perhatian adalah terdapatnya mushaf Alquran tulis tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul tahun 1867. Ia adalah salah seorang putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Disebabkan tempat belajarnya, penulisan mushaf Alquran itu bergaya Istambul yang dikerjakannya sambil mengajar agama Islam di Penyengat.
Alquran tulis tangan lain yang ada di mesjid itu dan tidak diperlihatkan kepada umum, ternyata lebih tua yakni dibuat tahun 1752. Uniknya, di bingkai mushaf yang tidak diketahui penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran, bahkan terdapat berbagai terjemahan dalam bahasa Melayu terhadap kata per kata di atas tulisan ayat-ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa di sisi lain, orang-orang Melayu tidak saja menulis ulang mushaf, tetapi juga coba menerjemahkannya.
Tentu saja mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada umum karena sudah amat rusak. Mushaf ini tersimpan bersama 300-an kitab dalam dua lemari di sayap kanan depan mesjid. Kita-kitab tersebut adalah sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga, Kutub Khanah Marhum Ahmadi, yang tidak terbawa bersama eksodusnya masyarakat Riau awal abad ke-20 ke Singapura dan Johor. Dalam suatu kunjungannya tahun 1970-an, Buya Hamka menilai bahwa buku-buku tersebut merupakan buku-buku penting yang tinggi nilainya dalam Islam.
Benda yang juga cukup menarik perhatian di mesjid ini adalah mimbar yang terbuat dari kayu jati. Sebuah sumber menunjukkan bahwa mimbar ini sengaja ditempah di Jepara, Jawa Tengah, sebanyak dua mimbar. Satu mimbar diletakkan di Mesjid Sultan di Penyengat ini, sedangkan mimbar lain yang berukuran lebih kecil, diletakkan pada mesjid di Daik. Jepara, memang sudah lama dikenal di Riau, bahkan misi dagang Riau yang dipimpin Raja Ahmad, sempat berada di wilayah itu tahun 1826. Di antara anggota misi ini adalah pujangga Raja Ali Haji yang keranda (peti mati) untuknya sempat juga dibuat di Jepara karena ia sakit keras ketika berada di situ.
Hasan Junus mengatakan, di dekat mimbar itu disimpan sepiring pasir yang dikatakan berasal dari Makkah al-Mukarramah, melengkapi benda-benda lain semacam permadani Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua yang dikenal sebagai bangsawan Riau pertama mengerjakan haji tahun 1820-an, hasil perdagangannya di Jawa sampai ke Betawi. Pasir tersebut senantiasa digunakan masyarakat dalam upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi kanak-kanak.
Cerita rakyat menyebutkan, nama pulau tersebut diambil dari nama binatang yakni penyengat (sebangsa lebah), semula dikenal sebagai tempat orang mengambil air dalam pelayaran di kawasan ini. Konon, suatu kali para saudagar yang mengambil air di situ diserang binatang tersebut. Pihak Belanda sendiri menjuluki pulau itu dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau itu lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.
Pada tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, Yang Dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga.
Dengan pengalamannya sebagai pengusaha timah di Semenanjung Malaya dan selalu berpergian ke berbagai tempat sebelum diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda, Raja Jaafar membangun Penyengat dengan cita-rasa pemukiman yang molek. Sejumlah pengamat asing menyebutkan, Penyengat ditata sebaik-baiknya tempat yang terlihat dari penyusunan pemukiman, keberadaan tembok-tembok, saluran air, dan jalan-jalan. Pada gilirannya, Sultan Abdurrahman Muazamsyah, tahun 1900 memindahkan tempat kedudukannya dari Daik ke Penyengat.
Setelah menolak menandatangani politik kontrak dengan Belanda dan melakukan berbagai macam bentuk perlawanan, Sultan Abdurrahman Muazamsyah diturunkan dari tahta oleh penjajah. Tak seorang pun orang Melayu yang bersedia menjadi Sultan setelah itu, Abdurrahman Muazamsyah bahkan mengilhami orang-orang Riau meninggalkan Penyengat menuju Singapura dan Johor tahun 1911. Hanya beberapa ratus orang penduduk dari 6.000 orang penduduk waktu itu yang tinggal di Penyengat setelah peristiwa tersebut.
Dengan demikian, bangunan-bangunan kerajaan terbiarkan, bahkan dijarah. Selentingan dari penduduk terdengar cerita tentang bagaimana di antara para bangsawan mengharapkan agar bangunan-bangunan yang ada hendaklah dirubuhkan daripada diambil oleh Belanda. Tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan terhadap Mesjid Sultan, malahan rumah ibadah ini dipelihara baik sebagaimana mestinya sebuah rumah ibadah.
Sebenarnya, Mesjid Sultan di Pulau Penyengat sebagaimana disebutkan dalam Tuhfat al-Nafis (buku sejarah Melayu) karya Raja Ali Haji, dibangun seiringan dengan dihadiahkannya pulau tersebut kepada Engku Putri Raja Hamidah oleh Sultan Mahmud. Cuma saja, waktu itu, mesjid tersebut terbuat dari kayu. Raja Jaafar yang membangun Penyengat sebagai bandar modern hanya pernah memperlebar mesjid itu karena penduduk Pulau Penyengat semakin banyak.
Dalam buku Mesjid Pulau Penyengat yang disusun Hasan Junus disebutkan, pembangunan mesjid itu secara besar-besaran dilakukan ketika Raja Abdul Rahman memegang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844), menggantikan Raja Jaafar. Tak lama setelah memegang jabatan itu yaitu pada tanggal 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu, setelah usai shalat Ied, ia menyeru masyarakat untuk ber-fisabilillah atau beramal di jalan Allah.
Caranya adalah dengan membangun mesjid di atas tapak mesjid yang lama. Suatu mesjid yang dapat meninggalkan zaman yaitu dapat digunakan mulai saat dibina sampai kepada anak cucu mendatang. Seruan ber-fisabilillah itu sangat kuat bergaung, setelah seruan serupa dikumandangkan dalam perang Riau, sehingga berduyun-duyunlah masyarakat datang dari berbagai tempat untuk bergotong-royong. Khusus pada sepekan pertama, para lelaki selain penjaga malam, dilarang keluar rumah agar siangnya dapat menyumbangkan tenaganya untuk mesjid. Akhirnya, pembuatan fondasi mesjid selesai dikerjakan selama tiga pekan.
Tidak saja tenaga, mereka juga menyumbangkan makanan seperti beras, sagu, dan lauk-pauk termasuk telur ayam. Makanan itu berlimpah-ruah, bahkan konon putih telur sampai tidak habis dimakan. Atas saran tukang pada bangunan induk mesjid, putih telur itu akhirnya dicampur dengan semen untuk perekat batu. Itulah sebabnya mengapa banyak masyarakat menyebutkan bahwa mesjid tersebut dibuat dari telur.
Kini kawasan mesjid itu berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya adalah 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat tiang. Lantai bangunannya dibuat dari batu bata tanah liat. Di halaman mesjid, terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat musyawarah. Selain itu terdapat juga dua balai, tempat orang biasanya menghidangkan makanan ketika kenduri dan untuk berbuka puasa yang disediakan pengurus mesjid setiap hari seperti juga tahun ini. Khusus bangunan induk, Raja Hamzah Yunus mengatakan, “Tidak ada perubahan semenjak pertama dibangun oleh Raja Abdul Rahman.”
Tak pelak lagi, keberadaannya memang amat lain dibandingkan mesjid semula yang terbuat dari kayu. Seperti dikisahkan dalam Mesjid Pulau Penyengat, semula mesjid itu berlantai batu merah empat persegi, sedangkan dindingnya terbuat dari kayu cengal (Balanocarpus heimii) yang didatangkan dari Selangor (kini masuk Malaysia). Atapnya terbuat dari kayu bekian. Hanya terdapat sebuah menara setinggi 12 hasta, ditambah sebuah kubah berukuran 17 hasta. Mesjid ini diberi pagar hidup dengan pohon-pohonan yang tumbuh merimbun.
Patutlah diakui bahwa bentuk Mesjid Sultan di Penyengat kini sangat unik. Sulit bagi orang untuk menentukan asal arsitekturnya. Ada yang mengatakan, mesjid ini bergaya India berkaitan dengan tukang-tukang dalam membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Singapura. Tetapi yang jelas, arsitektur mesjid merupakan gaya campuran dari berbagai wilayah budaya seperti Arab, India, dan Nusantara. Dalam dua kali pameran mesjid pada Festival Istiqlal di Jakarta (1991-1995) disebutkan bahwa Mesjid Sultan ini merupakan mesjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.
Terdapat 13 kubah di mesjid itu yang susunannya bervariasi seperti ada “kelompok” kubah dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ditambah dengan empat menara yang masing-masing memiliki ketinggian 18,9 meter, maka dapatlah dijumlahkan bahwa bubung yang dimiliki mesjid tersebut sebanyak 17 buah. Ini diartikan sebagai jumlah rakaat dalam shalat yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam dalam sehari semalam yakni subuh (dua rakat), zuhur (empat rakaat), asyar (empat rakat), maghrib (tiga rakaat), dan isya (empat rakaat).
Keunikan di dalam mesjid masih banyak. Paling menarik perhatian adalah terdapatnya mushaf Alquran tulis tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul tahun 1867. Ia adalah salah seorang putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Disebabkan tempat belajarnya, penulisan mushaf Alquran itu bergaya Istambul yang dikerjakannya sambil mengajar agama Islam di Penyengat.
Alquran tulis tangan lain yang ada di mesjid itu dan tidak diperlihatkan kepada umum, ternyata lebih tua yakni dibuat tahun 1752. Uniknya, di bingkai mushaf yang tidak diketahui penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran, bahkan terdapat berbagai terjemahan dalam bahasa Melayu terhadap kata per kata di atas tulisan ayat-ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa di sisi lain, orang-orang Melayu tidak saja menulis ulang mushaf, tetapi juga coba menerjemahkannya.
Tentu saja mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada umum karena sudah amat rusak. Mushaf ini tersimpan bersama 300-an kitab dalam dua lemari di sayap kanan depan mesjid. Kita-kitab tersebut adalah sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga, Kutub Khanah Marhum Ahmadi, yang tidak terbawa bersama eksodusnya masyarakat Riau awal abad ke-20 ke Singapura dan Johor. Dalam suatu kunjungannya tahun 1970-an, Buya Hamka menilai bahwa buku-buku tersebut merupakan buku-buku penting yang tinggi nilainya dalam Islam.
Benda yang juga cukup menarik perhatian di mesjid ini adalah mimbar yang terbuat dari kayu jati. Sebuah sumber menunjukkan bahwa mimbar ini sengaja ditempah di Jepara, Jawa Tengah, sebanyak dua mimbar. Satu mimbar diletakkan di Mesjid Sultan di Penyengat ini, sedangkan mimbar lain yang berukuran lebih kecil, diletakkan pada mesjid di Daik. Jepara, memang sudah lama dikenal di Riau, bahkan misi dagang Riau yang dipimpin Raja Ahmad, sempat berada di wilayah itu tahun 1826. Di antara anggota misi ini adalah pujangga Raja Ali Haji yang keranda (peti mati) untuknya sempat juga dibuat di Jepara karena ia sakit keras ketika berada di situ.
Hasan Junus mengatakan, di dekat mimbar itu disimpan sepiring pasir yang dikatakan berasal dari Makkah al-Mukarramah, melengkapi benda-benda lain semacam permadani Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua yang dikenal sebagai bangsawan Riau pertama mengerjakan haji tahun 1820-an, hasil perdagangannya di Jawa sampai ke Betawi. Pasir tersebut senantiasa digunakan masyarakat dalam upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi kanak-kanak.
penampilan suasana dalam Idul Fitri dan lintasan sejarah yang
dikandung Mesjid Sultan itu yang agaknya “mengusik” hati orang luar
datang mengerjakan shalat Idul Fitri atau Jumat (lihat: Naksabandiyah
dan Berbagai Kegiatan).
Pada gilirannya, kunjungan pendatang dari luar itu merupakan hikmah tersendiri bagi Mesjid Sultan. Ini terbukti banyaknya uang terkumpul dari infak dan sedekah pengunjung. Seorang pejabat Departemen Perhubungan di Jakarta beberapa tahun lalu sempat terkagum-kagum sambil mengatakan bagaimana sebuah mesjid yang berada di desa dengan mata pencaharaian penduduk adalah buruh dan pegawai negeri, memiliki kas di atas Rp 100 juta.
Keterangan terbaru menyebutkan, kas tersebut kini sudah membengkak menjadi Rp 200 juta lebih. Uang inilah yang dikelola untuk berbagai kegiatan seperti pendidikan keagamaan bagi kanak-kanak. Setiap bulan Ramadhan, pengurus menyediakan makanan berbuka puasa bagi 40 orang. Tak ada syarat untuk itu kecuali memang berpuasa dan memerlukannya. Selebihnya, dana tersebut diperlukan untuk memakmurkan mesjid.
Bayangkan saja, untuk memperindah mesjid, baru-baru ini dipasang lampu mewah pada dua menara mesjid seharga Rp 12 juta. Tak pelak lagi, dari Tanjungpinang, menara mesjid itu terlihat bagai mercusuar-seperti menjalani fungsi mercusuar sebenarnya agar orang tidak tersesat berlayar pada malam hari. Menaranya yang terang benderang terlihat seperti dua belah tangan yang mengaminkan doa ke langit, sekaligus mengingatkan orang akan wujud Allah.
Pengurus mesjid pula tampaknya tidak terlalu ortodoks terhadap pengunjung yang setiap hari mengunjunginya dalam angka relatif-dapat mencapai 1.000 orang pada hari Minggu atau pada hari libur. Mereka dipersilakan melihat-lihat keadaan mesjid setiap saat. Tentu saja, kegiatan melihat-lihat itu tidak lepas dari usaha agar tetap mengingatkan diri kepada Allah, sehingga seorang pengunjung tetap dituntut berlaku sopan. Pengunjung lelaki misalnya, tidak diperkenankan naik ke mesjid kalau hanya memakai celana pendek. Selain itu orang tidak dibenarkan mengambil foto di dalam mesjid.
Tak hanya sampai di situ. Fasilitas mesjid dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial keagamaan. Dua balai yang berada di halaman mesjid, dapat dijadikan tempat diskusi keagamaan dan kebudayaan. Tahun lalu misalnya, pengurus membenarkan pengisi kegiatan Hari Raja Ali Haji mengadakan kegiatan di dalam kompleks mesjid seperti bimbingan penulisan kreatif dan latihan membacakan syair dan Gurindam Duabelas.
Ya, Mesjid Sultan merupakan salah satu dari belasan obyek wisata di Pulau Penyengat sebagai obyek wisata andalan Riau, apalagi dalam saat hari raya seperti sekarang. Tetapi untuk soal agama, Mesjid Sultan tidak bisa ditawar-tawar karena fungsinya tetaplah sebagai rumah ibadah. Mesjid ini seolah-olah hendak mengatakan bahwa pandangan terhadap dunia tidak mungkin ditutup, tetapi pandangan kepada akhirat tetap dibuka selebar-lebarnya.
Pada gilirannya, kunjungan pendatang dari luar itu merupakan hikmah tersendiri bagi Mesjid Sultan. Ini terbukti banyaknya uang terkumpul dari infak dan sedekah pengunjung. Seorang pejabat Departemen Perhubungan di Jakarta beberapa tahun lalu sempat terkagum-kagum sambil mengatakan bagaimana sebuah mesjid yang berada di desa dengan mata pencaharaian penduduk adalah buruh dan pegawai negeri, memiliki kas di atas Rp 100 juta.
Keterangan terbaru menyebutkan, kas tersebut kini sudah membengkak menjadi Rp 200 juta lebih. Uang inilah yang dikelola untuk berbagai kegiatan seperti pendidikan keagamaan bagi kanak-kanak. Setiap bulan Ramadhan, pengurus menyediakan makanan berbuka puasa bagi 40 orang. Tak ada syarat untuk itu kecuali memang berpuasa dan memerlukannya. Selebihnya, dana tersebut diperlukan untuk memakmurkan mesjid.
Bayangkan saja, untuk memperindah mesjid, baru-baru ini dipasang lampu mewah pada dua menara mesjid seharga Rp 12 juta. Tak pelak lagi, dari Tanjungpinang, menara mesjid itu terlihat bagai mercusuar-seperti menjalani fungsi mercusuar sebenarnya agar orang tidak tersesat berlayar pada malam hari. Menaranya yang terang benderang terlihat seperti dua belah tangan yang mengaminkan doa ke langit, sekaligus mengingatkan orang akan wujud Allah.
Pengurus mesjid pula tampaknya tidak terlalu ortodoks terhadap pengunjung yang setiap hari mengunjunginya dalam angka relatif-dapat mencapai 1.000 orang pada hari Minggu atau pada hari libur. Mereka dipersilakan melihat-lihat keadaan mesjid setiap saat. Tentu saja, kegiatan melihat-lihat itu tidak lepas dari usaha agar tetap mengingatkan diri kepada Allah, sehingga seorang pengunjung tetap dituntut berlaku sopan. Pengunjung lelaki misalnya, tidak diperkenankan naik ke mesjid kalau hanya memakai celana pendek. Selain itu orang tidak dibenarkan mengambil foto di dalam mesjid.
Tak hanya sampai di situ. Fasilitas mesjid dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial keagamaan. Dua balai yang berada di halaman mesjid, dapat dijadikan tempat diskusi keagamaan dan kebudayaan. Tahun lalu misalnya, pengurus membenarkan pengisi kegiatan Hari Raja Ali Haji mengadakan kegiatan di dalam kompleks mesjid seperti bimbingan penulisan kreatif dan latihan membacakan syair dan Gurindam Duabelas.
Ya, Mesjid Sultan merupakan salah satu dari belasan obyek wisata di Pulau Penyengat sebagai obyek wisata andalan Riau, apalagi dalam saat hari raya seperti sekarang. Tetapi untuk soal agama, Mesjid Sultan tidak bisa ditawar-tawar karena fungsinya tetaplah sebagai rumah ibadah. Mesjid ini seolah-olah hendak mengatakan bahwa pandangan terhadap dunia tidak mungkin ditutup, tetapi pandangan kepada akhirat tetap dibuka selebar-lebarnya.
Demikian artikel singkat tentang Sejarah Pulau Penyengat semoga postingan ini bermanfaat dan memberikan wawasan bagi kita semua,Aamiin.....
Budi Daya Ulat Sutra
Budidaya Ulat Sutera...
Ini Ceritanya...Ayo kita simak bersama..!!!
Indonesia masih banyak mengimpor benang sutera
karena kekurangan bahan baku kerajinan kain. Ini kisah salah satu upaya
bertahan unit kecil rantai keajaiban ulat sutra (Bombyx mori) dari telur sampai jadi kain di Kabupaten Badung, Bali.
Menarik melihat budidaya ulat sutera. Tak hanya keajaibannya
menghasilkan serat benang sutra yang indah dan kuat, ulat ini
mengajarkan soal kemampuan adaptasi dan keseimbangan kehidupan.
Kehidupan baru setelah kematian.
Seperti terjadi di Agrowisata Sutera Sari Segara yang berlokasi di
Banjar Lateng, Sibang Kaja, Abiansemal. Di tengah pemukiman penduduk,
area sekitar 40 are kebun daun murbei ini dari depan tidak nampak hijau.
Gerbang rumah besi dengan balebengong di pojoknya dan pintu tertutup
rapat.
“Takutnya anjing masuk,” Tri Edy Mursabda, seorang pria tengah baya
manajer operasionalnya menyambut. Suasana sepi, sampai terlihat beberapa
blok kandang binatang seperti Rusa Timor, kalkun, dan Jalak Bali.
Sebuah ruangan audio visual berada paling depan, untuk menyambut
rombongan pelajar atau turis yang ingin memulai tur melihat keajaiban
ulat pemintal benang sutra ini. Mereka akan disuguhkan dengan video
perkenalan dan pengetahuan.

Terdapat ruangan paling besar dengan enam alat tenun bukan mesin,
meja dan kursi seperti kantin, dan gantungan kain-kain warna warni
beraneka corak. Dalam lemari-lemari kaca juga ada aksesoris jepit
rambut, bros, bando, dan lainnya.
Tri mengambil sebuah buku album berisi foto-foto yang mulai buram.
Kisah si ulat-ulat sutra ini terekam di sini. “Kami kekurangan bahan
baku untuk tenun,” ia membuka optimismenya dalam rantai budidaya ulat
sutra ini. Ini menjelaskan kenapa pada saat itu, akhir April lalu hanya
ada satu penenun yang bekerja melanjutkan menenun tiap helai benang
sutra menjadi kain corak merah kebiruan. Alat tenun lain masih tertempel
kain-kain setengah jadi berwarna merah, hijau, aneka corak. Menunggu
benang tambahan.
Agar para penenun dan pekerja lainnya tetap bisa beraktivitas, Tri
fokus mengembangkan wisata agro sejak 2008. Ia memulai dengan menyiapkan
lahan kebun murbei sekitar 40 are dan 10 are untuk bangunan. Tri
menyebut membibitkan ulat sutera tak sulit, cukup menyemai potongan
tangkai dahan sebelum ditanam di lahan. Untuk perawatan, pohon murbei
tua rutin dipangkas tiap 3 bulan agar dahannya tak terlalu tinggi
sehingga daunnya lebih lebat.
Suhu di lokasi ini relatif panas dibanding rekomendasi lokasi budi
daya ulat sutra antara ketinggian 400-800 meter di atas permukaan laut.
Namun Tri optimis dan menyiasatinya dengan mengurangi panas ruangan
makan si ulat dengan memasang blower.

Bibit berupa telur didatangkan dari Sopeng, karena tak setiap
pembudidaya bisa membibit sendiri dengan alasan menjaga kualitas dan
mencegah penyakit. “Kami bisa produksi telur tapi perlu alat dan ahli
yang periksa lab, dan lainnya,” urainya. Dalam 10 hari telur-telur akan
menetas. Tri memesan sekitar 100 ribu bibit telur tiap 3 bulan.
Pertumbuhannya dari ulat kecil, menjadi instar ulat makin besar dan
berganti kulit. Mereka terus makan dedaunan murbei dengan lahap sampai
22-25 hari. Setelah itu inilah tahapan yang paling dinanti, metamorfosis
jadi kepompong. Dalam tahap ini ulat tak makan daun lagi.
Ulat-ulat dipindahkan ke kotak-kotak kuning. Pada hari ke-3,
bulatan-bulatan kokon (cocon) atau kepompong sudah terlihat. Ulat
terlihat berada dalam kepompong memintal air liurnya jadi helai-helai
tipis putih seperti kapas. Dengan tekun gulungan ini makin rapat dan
tebal sampai ulat tak lagi terlihat.
Beberapa ulat terlihat tak mampu membuat kepompong dan mati. Melihat
proses ini terlihat mengesankan. Serdadu pekerja ini tekun memintal
dalam sunyi. Hari ke-4 bulatan kokon sudah penuh dan siap dipanen.

Sejumlah kokon yang disiapkan jadi indukan akan melakukan hal
menakjubkan untuk jadi larva dan bertelur. Ulat melubangi kokon persis
di titik dimulainya serat pertama diproduksi. Beda dengan ulat yang
bermetamorfosis jadi kupu-kupu, ulat sutra tidak jadi kupu-kupu.
Tri menyebut dari 10 kg kokon/kepompong saat dipintal menjadi 1 kg
benang. Bisa jadi kain dengan panjang 8 meter dan lebar 110 cm lebar.
Jika beroperasi penuh per hari kelompok budi daya ini menghasilkan
sekitar 30 kg benang. Harga beli cocon dari pembudidaya saat ini sekitar
Rp50 ribu/kg. Jadi masuk akal harga kain sutra lebih mahal.
Beralih ke lokasi pemintalan benang. Kepompong direbus beberapa saat
agar lebih lunak, baru dipintal. Selanjutnya diwarnai. Tri memberi tips
cara membandingkan benang sintetis dan sutra alami. Saat benang sutra
dibakar muncul bau rambut hangus dengan abu tipis yang mudah hilang.
Sementara benang sintetis jika dibakar seperti plastik dengan api merah.
Sifat kain sutra memang istimewa, saat cuaca dingin kita merasa hangat,
dan sebaliknya. Kain halus dan berkilau kena matahari tapi tak licin.
Seorang pekerja, Made Sari, menenun di agrowisata ini sejak 2010. Ia
menyelesaikan 2 meter kain/minggu. “Harus sabar tidak bisa sambil nonton
tv nanti rusak,” ia tersenyum.

Tri melihat potensi budidaya sangat menjanjikan karena pengerajin
kain masih kekurangan bahan baku sampai impor benang sutra. Karena itu
ia sendiri kerap kekurangan bahan baku sehingga produksi tenun terhenti.
Pihaknya sedang berupaya perbanyak kelompok tani ulat sutra. “Kita
sedang sosialisasi, hasil kepompong pasti kita beli,” ujarnya.
Selain menjual dalam bentuk kain, bagian lain dari budidaya juga kini
sudah diaplikasikan menjadi kerajinan. Misalnya kokon terlihat berubah
menjadi souvenir, dipotong berbagai bentuk dan diwarnai kemudian
dirangkai jadi hiasan rambut dan lainnya. Benang sutra juga diminati
seniman untuk rambut barong, alasannya benang ini terlihat lebih indah
dan hidup.
Dari laman Agro Indonesia,
disebutkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
mempermudah proses pengadaan telur ulat sutra dari luar negeri dengan
menerbitkan Peraturan Menteri LHK No.37/2017 tertanggal 7 Juni 2017.
Lewat kebijakan ini, usaha budidaya ulat sutra yang banyak dilakukan
masyarakat di sekitar hutan diharapkan bisa kembali bergairah. Produksi
kokon lokal pun diharapkan meningkat sehingga menekan impor benang sutra
yang lebih menguras devisa.
Mengutip artikel itu, Direktur Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan
Adat KLHK Hargyono menyebut produksi kokon di tanah air memang masih
minim. Setahun, hanya bisa menghasilkan sekitar 80 ton benang sutra
saja. Padahal, kebutuhan benang sutra nasional tiap tahunnya mencapai
800 ton. Untuk memenuhi kebutuhan itu, impor benang sutra, utamanya dari
Tiongkok pun harus dilakukan.
Demikian Paparan singkat tentang proses Budi Daya Ulat Sutra..Semoga bermanfaat bagi kita semua Aamiin..
Dasyatnya Manfaat Dari Buah Nanas
Dasyatnya Manfaat dari Buah Nanas
Adapun beberapa manfaat dari buah Nanas...
Sebelum itu mari kita simak fakta dan Sejarah Buah Nanas Terlebih Dahulu..
Fakta dan Sejarah Buah Nanas

Nanas merupakan salah satu tanaman tropis yang memiliki ketinggian
sekitar 5-8 kaki yang tumbuh menyebar sekitar radius 3-4 kaki. Tanaman
ini memiliki daun yang menyerupai jarum pada ujungnya, kulit buahnya
kasar dan sedikit tajam.
Secara ilmiah, buah ini biasa disebut dangan Ananas Comosus dan masih termasuk famili Bromeliaceae, dalam genus Ananas.
Buah nanas ini telah banyak diteliti oleh para ahli dan memang benar,
sangat banyak dan beragam manfaat yang terkandung di dalam buah iklim
tropis ini.
Perlu diketahui, bahwa buah nanas dulunya merupakan buah yang berasal
dari penduduk pribumi Paraguay lokal Amerika Selatan. Lalu dibawa oleh
Columbus ke Spanyol saat setelah menemukan benua Amerika pada tahun
1493.
Setelah itu, buah nanas menyebar sampai ke seluruh dunia oleh pelaut
Eropa pada abad ke- 15 dan ke- 16. Bertujuan sebagai perlindungan dari
penyakit yang diakibatkan kekurang mengonsumsi vitamin C, biasa disebut
penyakit scurvy.
Berbagai manfaat kesehatan terkandung dalam buah nanas. memperkuat
sistem kekebalan tubuh, menyehatkan tulang, mengatasi rasa nyeri,
melancarkan pencernaan, dan lain sebagainya.
Kandungan Gizi Buah Nanas

Manfaat buah nanas sangat banyak sekali. Dalam buah nanas, terdapat
sumber vitamin antioksidan yang sangat baik. Nanas mengandung 47,8 atau
80% vitamin C disetiap 100 g. Kangungan yang ada dalam buah nanas ini
sangat dibutuhkan untuk sintesis kolagen dalam tubuh.
Kolagen merupakan sebuah protein struktural utama yang ada di dalam
tubuh berguna sebagai menjaga integritas pembuluh darah, kulit, organ
dan tulang.
Memakan buah nanas dapat mencegah dari penyatkit scurvy, yaitu
gagalnya sintesis kolagen dan pembentukan osteoid di dalam tubuh. Hal
ini karena kandung buah nanas yang kaya dengan vitamin C.
Selain itu juga mampu untuk meingkatkan kekebalan tubuh. Sehingga
bisa terhindar dari radikal bebas proinflamasi dan tahan terhadap
serangan infeksi.
Gizi yang terkandung pada buah nanas hampir setara dengan apel,
karena di setiap 100 g buah nanas mengandung sekitar 50 kalori. Salah
satu sumber serat yang larut dan tidak larut seperti pektin. Dan juga daging yang terkandung didalamnya tidak terdapat lemat jenuh maupun kolesterol.
Dalam 100 gram buah nanas, terdapat kandungan gizi dengan zat-zat sebagai berikut (Sumber: USDA National Nutrient data base):


Manfaat Buah Nanas

Manfaat buah nanas sangat banyak bagi penunjang kesehatan tubuh
manusia. Buah nanas yang rendah akan kalori membuat buah yang satu ini
sangat baik untuk dikonsumsi setiap hari. Serat yang terkandung dalam
buah nanas bisa membantu pertumbuhan tulang.
Walau kebanyakan orang lebih suka menjadikan buah nanas sebagai jus,
tapi hal ini tidak mengurangi tingkat dan kandungan gizi yang terdapat
di dalamnya. Seperti B1, B2, B3, B5, B6, vitamin C dan bromelain.
Lalu apa saja manfaat dari buah nanas?
Di sini penulis akan memberikan 16 manfaat yang ada pada buah nanas.
Walau sebetulnya manfaat yang ada pada buah nanas ini lebih dari itu,
tapi jumlah ini mewakili dari manfaat buah nanas yang paling
mendominasi. Berikut ulasannya.
1. Buah nanas dapat meningkatkan kekebalan tubuh

Dengan mengonsumsi buah nanas maka kekebalan tubuh kita akan
meningkat drastis. Karena kandungannya yang baik dapat menjadikan sistem
imun menjadi lebih kebal terhadap penyakit seperti batuk, pilek, sakit
tenggorokan ataupun bahkan penyakit bronchitis pun bisa diatasi.
Buah nanas juga terkenal dengan buah pencegah kanker. Karena zat
bromelain yang terdapat pada buah nanas mampu melawan dan mencegah
penyakit kanker.
2. Manfaat buah nanas yang kaya akan kandungan vitamin C

Kandungan buah nanas yang kaya akan vitamin C dan bromealin mampun
melawan radikal bebas dari luar yang menyerang tubuh. Karena buah nanas
juga memiliki kandungan serat yang tinggi dan antioksidan yang baik bagi
tubuh.
Dari vitamin C inilah buah nanas mampu untuk mencegah penumpukan plak pada arteri atheroscldrosis yang dapat menyerang jantung.
3. Khasiat buah nanas yang kaya dengan kandungan serat

Serat yang terdapat pada buah nanas juga mampu melancarkan
pencernaan. Dengan rutin memakan buah nanas, maka usus akan lebih
optimal dan lebih sehat. Sehingga dapat bekerja lebih baik saat mencerna
makan.
Seratnya yang tinggi juga bisa membantu penyembuhan saat terkena
cacingan. Selain itu racun-racun yang menumpuk pada ginjal dan hati bisa
dihilangkan dengan rutin makan buah nanas.
4. Buah nanas dapat menyehatkan tulang

Manfaat selanjutnya dari buah nanas yaitu dapat menyehatkan tulang.
Hal ini didasari karena buah nanas mengandung magnesium dan kaium yang
berguna untuk memperkuat tulang serta jaringan ikat.
Dengan rutin memakan buah nanas maka kita akan mendapatkan tulang yang kuat serta kokoh.
5. Pencernaan akan lebih sehat dengan mengonsumsi buah nanas

Buah nanas dapat menjadikan pencernaan lebih sehat. Jus nanas bisa
membantu orang lebih menyehatkan sistem pencernaan. Penyatkit seperti
sembelit dan rasa mual bisa diatasi dengan mengonsumsi buah nanas yang
dijadikan jus.
Usus akan lebih teratur sistem kerjanya, karena ada kandungan serat
yang tinggi dan nutrisi yang bisa menjaga usus agar tetap sehat. Sebab
enzim yang terkandung dalam buah nanas bermanfaat untuk meningkatkan
fungsi usus.
Vitamin C yang ada pada buah nanas akan membantu tubuh lebih tahan
terhadap penyakit. Karena buah nanas yang dijadikan jus bertindak
sebagai pencegah penyakit secara alami.
6. Manfaat buah nanas yang mampu mengatasi rasa nyeri

Tidak banyak orang tahu bahwa jus nanas bisa mengatasi rasa nyeri
pada otot. Kebanyakan binaragawan menyediakan jus buah nanas untuk
dijadikan minuman rutin dikarenakan kandungan bromelain yang ada pada
buah nanas mampu mengatasi masalah pada otot. Contohnya seperti nyeri
sendi.
Buah nanas juga mampu meminimalisir terjadinya pembekuan pada darah.
7. Khasiat buah nanas mampu menyembuhkan luka dengan sangat cepat

Salah satu manfaat buah nanas selanjutnya adalah buah nanas memiliki
sifat anti inflamasi yang berguna untuk menyembuhkan luka dengan sangat
cepat.
Cara penggunaanya agar buah nanas dapat digunakan untuk menyembuhkan
luka adalah dengan menjadikannya jus nanas yang hancur dan lembut. Lalu
oleskan buah nanas yang hancur tersebut kepada bagian yang terluka dan
sakit.
Buah nanas yang telah dijadikan jus mampu untuk membersihkan luka,
sehingga proses penyembuahannya juga akan menjadi sangat cepat.
8. Manfaat buah nanas mampu meredahkan terjadinya peradangan

Kandunga yang ada pada buah nanas juga dapat mengatasi peradangan.
Meromelain yang ada dalam buah nanas bermanfaat sebagai zat anti
peradangan, anti pengentalan dan anti kanker.
Telah diuji coba melalu penelitian degan hasil yang menyatakan bahwa
mengonsumsi buah nanas dengan rutin dan teratur dapat melawan arthritis
serta masalah pada pencernaan.
Kandugan broelain yang ada pada nanas juga sering digunakan sebagai
mengatasi berbagai masalah peradangan pada kulit seperti contohnya
memar, keseleo, menyembuhkan bengkak dan mengurangi rasa sakit.
9. Jantung akan menjadi lebih sehat dengan buah nanas

Sebuah penelitian di Firlandia menunjukkan hasil bahwa buah nanas
dapat memperlancar kinerja jantung serta mengurangi pembekuan dalam
darah. Tubuh yang tercukupi dengan vitamin C akan sangat berguna sekali
untuk melawan penyakit jantung serta menurunkan resiko terserangnya
penyakit jantung koroner.
Maka dari itu kita harus selalu menjaga tubuh kita dari sakit,
terutama jantung. Karena jika jantung sudah rusak, tidak menutup
kemungkinan seluruh organ tubuh yang ada agan bekerja tidak maksimal.
Dan ujung-ujungnya penyakit akan mudah masuk dan menyerang organ
lainnya.
10. Meminum buah nanas dapat menyegarkan tubuh

Buah nanas juga dipercara mampu menjadikan tubuh lebih segar. Rasa
lelah yang dialami sesorang bisa segera hilang dengan meminum jus nanas.
Maka dari itu kita dianjurkan untuk menjadikan buah nanas sebagai
makanan dan minuman rutin setiap hari.
11. Khasiat buah nanas dapat mencegah penyakit katarak

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa asupan tinggi dari vitamin C
dapat membantu dalam mengurangi resiko penyakit katarak. Vitamin C yang
terkandung dalam buah nanas memang perperan penting dalam mengatasi
kesehatan mata.
Memang sebenarnya, secara umum bahwa vitamin C dapat berfungsi untuk
menjaga kesehatan mata. Vitamin C juga dapat mencegah degenerasi pada
manusia.
12. Menjaga kesehatan gusi pada gigi

Vitamin C yang terdapat pada buah nanas juga dapat menjaga kesehatan
gigi. Buah nanas mampu menurunkan resiko peradangan pada gusi, serta
mencegah penyakit-penyakit yang berhubungan denga gusi.
13. Khasiat nanas sebagai kesuburan pria dan wanita

Manfaat buah nanas yang satu ini yang menjadikan buah nanas spesial.
Buah nanas dapat meningkatkan kesuburan pada pria dan wanita.
Buah nanas jika dikonsumsi dengan dijadikannya menjadi jus, memiliki
kandungan yang terdiri dari vitamin C yang telah dibawas di atas,
mineral, beta karotem, tembaga, seng, dan juga folat.
Kandungan-kandungan tersebut memiliki manfaat yang dapat meningkatkan
kesuburan pada pria dan wanita. Ditambah lagi jus buah nanas memiliki
manfaat yang tidak kalah penting dalam seksualitas.
Namun bukti yang ada belum didukung oleh teori ilmiah, sehingga tidak bisa dibuat rujukan akan benar adanya.
14. Manfaat buah nanas dapat mencegah penyakit asma

Studi penelitian yang telah dilakukan, kandungan beta karoten yang
terdapat pada buah nanas dapat mengurangi resiko seseorang terkenanya
penyakit asma. Karena dalam buah nanas mengandung beta karoten yang
diubah menjadi vitamin A berperan aktif selama proses pencernaan di
dalam tubuh.
Akan tetapi data ini tidak bisa dijadikan patokan. Karena penelitian
yang dilakukan masih pada tahap awal dari proses penelitian tersebut.
15. Mengonsumsi buah nanas sebagai sumber energi

Buah nanas mengandung vitamin B1 yang bermanfaat mengubah gula
menjadi energi. Jadi nanas cukup penting untuk dikonsumsi setiap hari
agar kita tetap terus terjaga kesehatannya dan memiliki tenaga saat
beraktifitas.
16. Meminimalisir penyakit sinusitis

Terahir yaitu buah nanas dapat mengurangi penyakit sinusitis. Dalam
kasus ini, kandungan enzim yang terdapat pada buah nanas mampu mencerna
protein. Yaitu enzim bromelain yang memiliki sifat anti inflamasi. Enzim
ini mampu untuk mengurangi lendir dan peradangan pada sinusitis.
Itulah penjelasan dari berbagai kandungan dan manfaat buah nanas.
Semoga dengan ini kita bisa rutin untuk mengonsumsi buah nanas. Karena
dikira sangat penting untuk menunjang kehidupan dan kesehatan tubuh
kita.
Semoga kalian mendapatkan banyak manfaat dari membaca artikel ini..
Sekian,.
Salam dan Terimakasih!
Kamis, 10 Januari 2019
Internet Pertamaku
Assalaualaikum.wr.wb...
Rekan-rekan calon orang sukses.
.
Sebelum kalian menyimak artikel milik saya .. ada baiknya saya memperkenalkan diri saya dahulu, karena pepatah pernah mengatakan bahwa ''Tak Kenal Maka Tak Sayang'' .hahaa..😅..
Nama lengkap saya A. Fauzi sering di panggil fauzi, dan profesi saya saat ini yaitu Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Meranti tepatnya di kota Selatpanjang yaitu kampus AMIK Selatpanjang...
Baiklah rekan-rekan...pada kesempatan kali ini saya ini berbagi kisah pengalaman saya saat pertama kali mendengar dam mengenal apa itu Internet, untuk lebih lengkapnya simak artikel berikut ini...cek it out..👇
Demikian pemaparan cerita lebih tepatnya
pengalaman saya dalam pengenalan internet dari masa-masa dulu yang masih
asing jika mendengar nya tapi sekarang alhamdulillah kini internet
sudah tidak bisa lepas dari kehidupan saya baik dalam mencari materi
maupun inforamsi untuk menunjang kehidupan saya kedepannya karena kini
saya telah memeiliki fasilitas smartphone yang canggih. Demikian cerita
singkat saya jika ada kesalahn kecil dan besar saya mohon maaf
sebanyak-banyaknya akhir kata Wassalamualaikum Warohmatullah Hi Wabarokatuh.
Langganan:
Postingan (Atom)






